sanggar anak alam

Sanggar Anak Alam, Sekolah Non-Konvensional bagi Desa

Sedikitnya sekolah-sekolah di desa dan minimnya fasilitas, menyebabkan banyak orang menyekolahkan anaknya di kota. Sehingga banyak anak-anak yang sekolah di kota menetap dan hidup disana. Hal ini menyebabkan matinya perekonomian dan kemandirian di desa karena orang-orang yang pintar memilih menetap di kota.

Dari situ, pada tahun 1997 berdirilah Sanggar Anak Alam di Bantul. Sebuah organisasi yang didirikan oleh Sri Wahyaningsih yang ingin membangun desa lewat sekolah non-konvensional. Dalam sekolah ini siswa diajarkan untuk bisa berpikir secara bebas dan menemukan sendiri bakat dan minat yang mereka sukai. Sekolah ini juga membebaskan anak untuk tidak berseragam ketika pergi ke sekolah. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa menentukan sendiri hal apa saja yang diinginkan.

Sanggar anak alam ini berada di desa Nitiprayan, kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekolah ini berdiri pada tahun 2004  yang dimulai dari PAUD, kemudian muncul TA (Taman Anak) pada tahun 2006, selanjutnya pada tahun 2008 muncul SD (Sekolah Dasar), dan pada tahun 2012 muncul SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Pendirian sekolah ini bukan sekedar pemikiran Wahya namun juga atas permintaan masyarakat sekitar yang ingin agar daerahnya lebih berkembang. Berkat kepedulian Sri Wahyaningsih dalam dunia pendidikan, masyarakat mendapat satu alternatif lain untuk memperoleh suatu pendidikan. Kegigihan dan usahanya untuk memajukan lingkungan disekitarnya merupakan gambaran kepeduliannya terhadap sesama manusia, melalui jalur pendidikan inilah Wahya berupaya untuk memajukan masyarakat dengan cara yang  relatif berbeda.

About the author

Abdul Aziz Muslim Alqudsy

View all posts