yayasan dian desa0

Yayasan Dian Desa Mengembangkan Masyarakat Dengan Teknologi Tepat Guna

Ada kelompok tertentu yang karena satu dan lain sebab bisa tinggal landas, karena terdidik atau punya akses tapi banyak yang ketinggalan di landasan. Ini justru jadi masalah paling besar

Kata Anton Sudjarwo pendiri Yayasan Dian Desa mengenai masyarakat pedesaan Indonesia.

Yayasan Dian Desa (YDD), atau dalam bahasa Inggris “light of the village foundation,”adalah organisasi non-pemerintah (LSM) aktif dalam kegiatan pengembangan masyarakat secara umum, dengan fokus khusus pada pengembangan teknologi tepat guna.

Berbagai penghargaan telah diterimanya: Kalpataru, Magsaysay dan Satya Lencana. Semua itu untuk usaha dan kepeduliannya terhadap masyarakat lapisan ekonomi lemah dan lingkungan hidup. Itulah Anton Sudjarwo, pendiri Dian Desa. LSM ini didirikan pada 1972, dan berawal ketika ia masih mahasiswa.

Ketika Yayasan Dian Desa didirikan pada tahun 1972, personelnya hanya mencapai empat, dan pada saat itu kegiatan YDD yang terbatas untuk membersihkan air minum dan sanitasi saja. Lokasi operasinya juga terbatas misalnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah saja.

Perlahan Yayasan Dian Desa telah berkembang, dan pada saat ini mempekerjakan sekitar 300 orang dari berbagai disiplin ilmu. Lokasi kegiatannya juga diperluas. Selain beroperasi di Indonesia, Yayasan Dian Desa sekarang aktif bekerja di tempat lain di kawasan Asia Tenggara.

Tujuan
Tujuan utama Yayasan Dian Desa adalah membantu masyarakat desa memperbaiki kehidupan mereka. Untuk itu mereka harus bebas dari beban-beban yang tidak perlu, sehingga bisa masuk kancah produktif. “Andai kata tiap hari cari air saja empat jam, lima jam, biar dilatih ini dan itu. Yah, mereka kan tidak punya waktu lagi.”

Air bersih, sanitasi dan energi adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi dulu. Ketika masih mahasiswa, Anton Sudjarwo menerima tantangan membantu masyarakat pedesaan mendapatkan air. Proyek pertama dan paling tua dari Yayasan Dian Desa adalah penyediaan air bersih.

Berbagai teknologi mereka terapkan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat pedesaan.

“Lebih banyak kita menikmati pendidikan, banyak titel, sebenarnya secara moral kita utang sesuatu pada mereka. Bukan utang duit. Biar mereka bisa hidup lebih enak, yah do something.” Itulah motivasi Anton Sudjarwo.

Kegembiraan kerja baginya adalah bisa bermanfaat bagi banyak orang lain. Jika dinilai dari segi materi memang tidak banyak. Tapi banyak kegembiraan lain yang lebih berharga bagi pria setengah baya berperawakan tinggi itu.

Atasi Polarisasi
Memperbaiki ekonomi masyarakat lapisan bawah adalah sangat penting, karena perbedaan besar antara si kaya dan si miskin menyebabkan polarisasi yang membahayakan. Bukan saja bagi Indonesia, tapi bagi dunia.

“Sampai hari ini di Indonesia dan di negara berkembang, air menjadi isu yang besar sekali. Di Indonesia baru 50 persen begitulah, dari penduduk Indonesia yang punya akses kepada air bersih,” lanjut Anton Sudjarwo.

Dian Desa juga bekerja sama dengan organisasi Belanda yang bergiat di bidang air dan sanitasi seperti Simavi yang didukung DGIS, yaitu Direktorat Kerjasama Pembangunan Internasional.

Setelah tahap penyediaan kebutuhan dasar, ada tantangan berikut. Masyarakat desa punya air bersih dan sanitasi, tapi kantong tetap kosong, mereka tetap miskin. Di sinilah Dian Desa mengajak masyarakat memasuki tahap pengembangan ekonomi. Misalnya dengan industri kecil.

Kulit Ikan Pari
Salah satu contohnya adalah pemanfaatan kulit ikan pari. Salah satu program LSM ini di Jepara adalah membantu masyarakat nelayan petambak yang kemudian diperluas sampai nelayan yang melaut.

Pertanyaan utama adalah bagaimana meningkatkan pendapatan mereka dengan apa yang ada di tangan nelayan? Berbagai hal mereka temukan, rumput laut, kulit udang, kulit kepiting, namun pilihan jatuh pada kulit ikan pari.

Sedianya kulit ikan pari dipandang sebagai limbah, karena yang dijual adalah dagingnya. Namun kulit ikan pari itu indah, bisa digarap menjadi produk-produk menarik. Untuk itu kulit ikan harus disamak dulu.

“Nelayan mengatakan pada saya: ‘Oh bapak mau kulit ini? Silahkan ambil Pak.’ Bagi dia itu sampah,” jelas Aryanto pada Radio Nederland. Dia menolak, karena ingin membeli kulit pari itu dari para nelayan. Mereka diminta membersihkan dulu kulit ikan pari, dipisahkan dari dagingnya dan diproses dengan garam.

“Tahun 88 saya beli seribu lima ratus rupiah. Upah waktu itu seratus perakpun mereka sudah mau.” Dengan demikian para nelayan mendapat tambahan.

Dampaknya
Kulit ikan pari kemudian disamak dan digarap menjadi antara lain tas, dompet, ikat pinggang. Ini berarti peluang kerja dan nafkah bagi para penyamak kulit, pengrajin dan penjaga toko. Saat ini di belakang tokonya di Yogyakarta, Aryanto mempekerjakan sekitar 150 karyawan.

“Kalau mau hitung dengan nelayannya yang mengumpulkan kulit dan menghitung juga keluarga mereka, karena nelayan laki-laki. Mereka yang menangkap ikan, sampai di darat yang melepaskan kulit itu ibu-ibu atau istri mereka. Itu jumlahnya bisa sampai ribuan.” Demikian Aryanto menyimpulkan dampak pemanfaatan kulit ikan pari yang sedianya dianggap sampah.

About the author

Abdul Aziz Muslim Alqudsy

View all posts